Templates by BIGtheme NET
Rumah » informasi » Literasi Media Cegah Radikalisme dan Terorisme
KUNJUNGI ANALISA: Sekretaris Redaksi Harian Analisa War Djamil berbincang dengan rombongan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumut yang diketuai Zulkarnain Nasution didampingi anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi dan ahli media BNPT Willy Pramudya saat mengunjungi Kantor Harian Analisa di Jalan Jenderal Ahmad Yani Medan, Rabu (6/9).
KUNJUNGI ANALISA: Sekretaris Redaksi Harian Analisa War Djamil berbincang dengan rombongan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumut yang diketuai Zulkarnain Nasution didampingi anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi dan ahli media BNPT Willy Pramudya saat mengunjungi Kantor Harian Analisa di Jalan Jenderal Ahmad Yani Medan, Rabu (6/9).

Literasi Media Cegah Radikalisme dan Terorisme

Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Suma­tera Utara mengampanyekan literasi media bagi masyarakat sebagai upaya untuk mencegah dan menangkal radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat. Masyarakat perlu me­mahami penyebaran informasi melalui news portal, search engine dan social portal sehingga bijak dan menentu­kan sikap dalam menerima isu-isu yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Hal itu diutarakan Ketua FKPT Su­mut, Dr Zulkarnain Nasution, MA di­dampingi narasumber ahli media BN­PT Willy Pramudya, anggota De­wan Pers Jimmy Silalahi beserta pengurus FKPT Sumut saat kunjungan media (media visit) ke Harian Analisa Jalan Ahmad Yani Medan, Rabu (6/9). Keda­tangan disambut Sekretaris Redaksi Harian Analisa, War Djamil. Kunjung­an juga merupakan rangkaian kegiatan literasi media sebagai upaya cegah dan tangkal radikalisme dan terorisme yang dilak­sa­na­kan hari ini, Kamis (7/9) di Hotel Polonia Jalan Jenderal Sudirman Medan.

Zulkarnain Nasution menyampai­kan, lembaga ini merupakan perpan­jangan Badan Nasional Penanggulang­an Terorisme yang mempunyai tugas utama yaitu melakukan tindakan pence­gahan terhadap segala bentuk paham dan tindakan-tindakan radikalisme dan terosisme di daerah-daerah. Ia juga men­ceritakan tentang beberapa kasus upaya tetorisme yang ditangani. Para pihak yang punya kecenderungan me­la­kukan tindak radikalisme yang masuk dalam pengawasan FKPT Sumut.

Willy Pramudya menjelaskan, me­dia punya peran penting sebagai akses in­formasi masyarakat. Untuk itu, di­perlukan pula pemberitaan yang baik dan akurat sesuai dengan kaidah dan kode etik jurna­listik. Khususnya untuk pemberitaan terkait isu-isu terorisme dan radikalisme, sehingga masyarakat tidak dipicu dengan pemberitaan yang kurang baik. Ia menjelaskan, seperti beberapa waktu lalu di Tanah Air, isu terorisme cukup me­ningkat, namun yang disayang­kan, dalam pemberitaan ia menilai ada yang menam­pilkan berita bohong dan tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Hal itulah yang dinilai mampu me­ng­giring dan membentuk opini masya­rakat yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan atau fabrikasi. Untuk itu, menghindari berita bohong atau hoaks merupakan slah satu tugas yang mampu diwujudkan dengan literasi media. Ber­bagai kegiatan pun disiapkan, misal­nya mendidik dan memberikan pema­haman kepada warga agar mampu me­lakukan jurnalisme warga yang sesuai dengan kaidah. Selain itu, masyarakat juga diberdayakan untuk membantu dalam menyebarkan informasi yang benar dengan berbagai sarana. Seperti pemberdayaan blogger. Ia dan timnya juga telah menyusun pedoman pelipu­tan terorisme yang telah disahkan De­wan Pers pada 2015.

“Beberapa waktu setelah bom Sari­nah, muncul teguran KPI terhadap 10 stasiun TV nasional. Media yang ka­tanya dikelola para profesional itu melakukan hal yang sangat fatal. Yaitu tidak ada peristiwanya mereka berita­kan. Bahkan ada satu televisi saat itu, selesai membacakan berita itu menga­takan ‘setelah pemberitaan ini akan kami lakukan konfirmasi’. Padahal dalam jurnalistik, hal itu tidak dibenar­kan. Konfirmasi dilakukan sebelum berita diturunkan. Ini artinya di In­donesia mengalami gejala bahwa media kita semakin hari semakin menga­baikan standar dasar jurnalisme sampai kepada kode etik,” jelasnya.

Anggota Dewan Pers, Jimmy Sila­lahi menyampaikan, agar setiap media memberitakan hal yang proporsional dan agar masyarakat tidak latah tek­nologi. Maksudnya tidak membagikan berita yang belum teruji kebenarannya kepada orang lain karena berpotensi menim­bulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.  Saat ini, news por­tal, sosial portal dan search engine merupakan tiga pintu utama akses in­for­masi. Untuk itu, pentingnya literasi digital sebagai upaya edukasi semua pihak dan lapisan masyarakat terutama di kalangan pemuda yang merupakan angka terbesar sebagai pengguna media sosial.

Ia menjelaskan, salah satu jalan untuk melawan  dan mengimbangi isu radikalisme dan terorisme yang baru-baru ini dilakukan yaitu pada perayaan kemerdekaan dengan mengangkat semangat kebangsaan melalui isu-isu kearifan lokal. Saat ini, ia menganggap unsur kearifan lokal merupakan unsur penting dalam pencegahan teror dan tindak radikal. Pertemuan ini merupa­kan komitmen untuk membantu Sumut menjadi daerah percontohan dan model dalam hal pencegahan dan tangkal radi­kalisme. Memastikan Sumut adalah daerah yang aman.

Sumber : Analisa

Tentang fkptsumut

fkptsumut