Templates by BIGtheme NET
Rumah » Kegiatan » Media Jangan Jadi Corong Teroris
media-jangan-jadi-corong-teroris-264659-1

Media Jangan Jadi Corong Teroris

Medan, Kasus terorisme meluas dengan adanya pemberitaan secara masif di media massa. Kelompok-kelompok teroris juga tercitra sebagai jaringan yang kuat karena meman­faatkan media. Pemberitaan terkait aksi terorisme perlu diperhatikan agar tidak terjebak sebagai corong kelompok teroris.

Hal ini terungkap dalam Diseminasi, Peningkatan Pro­fesionalisme Media Massa dalam Meliput Isu Terorisme yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumut, Badan Nasional Penanggulangan Tero­risme (BNPT) di Hotel Polonia Medan, Rabu (21/9).

Direktur Pencegahan BNPT-RI, Brigjen Pol Drs Hami­din mengungkapkan aksi teror membutuhkan dampak global di tengah-tengah masyarakat sehingga sekarang ini kelompok teror menjadikan media sebagai sarana untuk menyampaikan dampak tersebut.

“Ayman al-Zawahiri, Pemimpin Al-Qaeda saat ini mengklaim mereka sedang menjalankan sebuah pertempu­ran dan lebih dari setengah pertempuran itu berada di ra­nah media. Pemberitaan media tentang aksi teror turut membesarkan kelompok-kelompok teroris. Terorisme justru besar karena pemberitaan media,” ujarnya.

Ia mengatakan tidak sedikit media yang turut berpar­tisipasi dalam membesarkan terorisme karena telah terje­bak dalam pemberitaan tentang aksi teror. Praktik media di Indonesia salah satunya sangat terbuka memberitakan penegakan hukum termasuk dengan menyiarkan secara langsung operasi penangkapan di tempat kejadian perkara.

“Harusnya ini tidak boleh, karena akibatnya bisa meng­gagalkan operasi. Lalu ada media yang memutar berulang detik-detik peledakan bom, ini bisa menyebabkan masya­rakat trauma dan takut. Menyebutkan pelaku teror menla­fazkan atau menggunakan atribut agama tertentu juga berarti media berhasil dimanfaatkan pelaku teror,” tambahnya.

Sesuai pedoman

Anggota Dewan Pers, Willy Pramudya, mengung­kap­kan wartawan harus mengikuti pedoman peliputan tero­risme yang telah dikeluarkan dewan pers agar tidak terjebak sebagai alat kelompok teroris. Ada 13 butir pedoman peli­putan terorisme yang dikeluarkan dewan pers.

“Pemberitaan mengenai terorisme akan menimbulkan dampak yang luas. Teror di Bali menyebabkan wisata han­cur selama dua tahun. Media adalah alat mereka yang paling utama untuk menundukkan dunia sesuai dengan ideologi mereka,” ujarnya.

Wartawan harus menghindari pemberitaan yang ber­potensi mempromosikan dan memberikan legitimasi mau­pun glorifikasi (membesarkan) tindakan terorisme maupun pelaku terorisme. Wartawan juga harus menempatkan ke­selamatan jiwa sebagai prioritas di atas kepentingan berita saat meliput peristiwa terkait aksi terorisme.

Sementara, Khairul Ghazali, mantan teroris yang kini aktif berpartisipasi dalam memutus mata rantai radikalisme di Indonesia, mengatakan hubungan media dan terorisme di era kontemporer saat ini saling mempengaruhi dan saling menguatkan.

Media digunakan kelompok teroris sebagai salah satu sarana untuk memperluas pengaruh dan ancamannya terhadap masyarakat.

“Tujuan aksi terorisme itu memperkuat legitimasi kelompok terkait, mengintimidasi pemerintah dan aparat serta memperluas pengaruh di masyarakat. Aksi teror diberitakan sebagai bentuk menjatuhkan moral pemerintah agar dianggap gagal memberantas teroris. Dan itu meng­untungkan bagi kelompok mereka. Media dalam hal ini kecolongan dan turut menjatuhkan moral pemerintah,” ungkapnya.

Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut, Drs H Sofyan Harahap mengatakan dalam meliput aksi terorisme, wartawan harus memiliki kemampuan, pengetahuan, sikap dan kesadaran untuk mempertimbangkan hal yang boleh disiarkan dan yang tidak.

Serta harus mengubah pola pikir bad  news is a good news jika berita itu memberikan dampak negatif bagi masyarakat. (Repost From Analisa. Famd)

Tentang fkptsumut

fkptsumut