Templates by BIGtheme NET
Rumah » Tak Berkategori » UPAYA PENCEGAHAN BERKEMBANGNYA RADIKALISME MENURUT Pdt. Elim Simamora, D.Min., D.Th
e9b71c1aa65d4f5692f0a8eb1f724c65

UPAYA PENCEGAHAN BERKEMBANGNYA RADIKALISME MENURUT Pdt. Elim Simamora, D.Min., D.Th

UPAYA PENCEGAHAN BERKEMBANGNYA RADIKALISME

  1. Kerukunan: Suatu Upaya Mencari Titik Temu

Kerukunan merupakan kondisi dimana semua golongan agama bisa hidup bersama secara damai tanpa mengurangi hak ataupun kebebasan masing – masing untuk menganut dan melaksanakan kewajiban agamanya. Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makana “baik” dan “damai”. Initnya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Bila makna tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal yang didambakan oleh masyarakat.

Cara yang paling sederhana untuk menciptakan kerukunan adalah, memperbanyak dialog. Namun, apakah dialog yang sering dilakukan antar-agama di Indonesia menemukan titik temu atau titik singgung? Menemukan titik temu antar agama sulit dilakukan, tetapi kalau tidak ditemukan jangan sampai menghalangi rasa menghargai antar agama.

Dapat dikatakan titk temu antar-agama yang memungkinkan adalah mengenai masalah kemanusiaan. Dimana setiap agama wajib membela hak-hak dasar manusia yaitu hak untuk hidup, hak beragama, memperoleh pendidikan, dsb. Kemanusiaan akan selamat kalau dijalani bersama manusia-manusia konkret lainnya: mengakui otonomi dan kesamaan semua orang, mengakui hak-hak asasinya, mengakui kebebasan berpikir dan beragama.

Melalui titik temu ini (kemanusiaan) dapat dikatakan bahwa theologia religionum termasuk salah satu jalan yang mampu membongkar impasse (jalan buntu) yang terjadi pad agama-agama. Theologia religionum mengajak umat untuk menoleh ke luar dirinya dan menjalin hubungan yang akan memperkaya dirinya sendiri. Ia memberi orientasi hidup beragama, sambil menawarkan wacana baru dalam hidupnya.

  1. Dialog: Perbedaan sebagai Titik Tumpu Dialog Kerukunan

Perbedaan konsepsi diantara agama-agama yang ada adalah sebuah realitas, yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Perbedaan – bahkan benturan konsepsi itu- terjadi pada hampir semua aspek agama, Baik di bidang konsepsi tentang Tuhan maupun konsepsi pengaturan kehidupan. Hal ini dalam prakteknya, cukup sering memicu konflik fisik antara umat berbeda agama.

Salah satu syarat dalam mewujudkan kerukunan di antara para penganut agama yang berbeda adalah adanya dialog. Makna dialog di sini adalah percakapan antara dua orang atau lebih dimana di dalamnya terjadi pertukaran nilai-nilai yang dimiliki masing-masing pihak. Atau, dialog juga bisa bermakna sebagai sikap saling membagi atau sharing. Tegasnya, dialog berarti ‘kami berbicara kepada anda,’ atau ‘kami berbicara dengan anda,’ yang kemudian berlanjut menjadi ‘kita semua’ berbicara sesama kita membicarakan masalah kita bersama.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para penganut agama dalam mewujudkan dialog. Para penganut agama dituntut mempunyai pribadi diagonal, pribadi utuh, dan pribadi otentik. Pribadi diagonal dalam arti seseorang yang terbuka, sanggup membuka diri kepada orang lain dan sanggup mendengarkan dan menerima ungkapan diri orang lain, serta sanggup mematuhi aturan-aturan dilogis. Pribadi utuh dalam arti memberikan tanggapan dengan sepenuh hati, bukan setengah-setengah. Pribadi otentik dalam arti menghargai orang lain sebagai pribadi dan mau mempercayainya serta tidak memperalatnya untuk kepentingan pribadi. Selanjutnya, dialog bisa dilakukan dalam beberapa bentuk.

Tetapi, untuk mewujudkan dialog antar para penganut agama dihadapkan pada beberapa rintangan yang harus diatasi.

  1. Rintangan bahasa.
  2. Gambaran tentang orang lain yang keliru.
  3. Nafsu membela diri.

Dan perlu diingat, bahwa dialog antar para penganut agama bukanlah merupakan peleburan agama-agama menjadi satu agama. Juga bukan membuat suatu sinkretisme, semacam agama baru yang memuat unsur-unsur ajaran agama. Dialog juga bukan untuk mendapatkan pengakuan akan supremasi agamanya sebagai agama yang paling benar. Dialog di sini adalah untuk mencapai saling pengertian dan saling menghargai di antara para penganut agama.

  1. Membedakan Kebenaran Absolut dengan Kebenaran Relatif

Setiap agama memiliki “kebenaran absolut”, tetapi juga ada yang disebut dengan “kebenaran relatif”. Titik temu tidak akan terjadi di area “kebenaran absolute” tetapi sangat mungkin terjadi di area “kebenaran relative”.

4. Membedakan antara ruang privat dan ruang publik
#FamdMp

 

Tentang fkptsumut

fkptsumut